Aug 17, 2021

Villa Merah Jerman Cukul Pangalengan Bandung

Pangalengan menjadi sebuah kawasan di Bandung selatan yang kaya akan wisata alamnya. Ketika para wisatawan berkunjung dan menginjakan kaki di kawasan wisata alam pangalengan. Udara sejuk dengan panorama alam yang menakjubkan siap menyambut kedatangan kalian.

Keindahan hamparan wisata kebun teh hijau yang begitu luas, membuat penglihatan semakin jelas. Di pangalengan juga, terdapat wisata yang menyuguhkan keindahan sunrise dan sunset.

Apabila kalian ingin menghabiskan waktu yang panjang untuk berjelajah di kawasan Pangalengan. Pastinya kalian memerlukan sebuah penginapan untuk beristirahat. Dan melanjutkan esok harinya untuk berkunjung dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. 

Terdapat banyak penginapan bertema homestay, villa, hotel, dll. Atau kalian bisa juga mencari penginapan di Bandung bagian kota, sekalian menikmati wisata malam kota kembang.

Membahas nama villa, jika kalian berkunjung ke pangalengan. Ada sebuah villa angker bernama Villa Merah Jerman yang konon katanya angker. Villa angker ini diberi nama villa jerman, karena keberadaannya di perkebunan teh dengan arsitektur jerman.

Villa Jerman atau sering disebut dengan villa merah cukul, memang menarik perhatian banyak orang. Lokasinya berada di perkebunan teh cukul pangalengan dengan danau kecil yang elok.

Cerita Misteri Villa Merah Jerman

Cerita yang beredar luas di masyarakat mengatakan bahwa villa ini merupakan sebuah saksi bisu tragedi pembunuhan. Bahkan banyak yang menuturkan, korban pembunuhan tersebut gentayangan dan sering menampakan di area sekitar villa.

Keangkeran lainnya, di villa jerman ini. Pada malam hari sering ada suara musik, bahkan suara musik tersebut baru berhenti ketika subuh menjelang.

Saya sendiri tidak tahu, akan sebuah tragedi di villa jerman ini. Yang pasti, villa jerman memiliki sebutan villa merah. Karena darah korban berceceran di lantai, sehingga masyarakat setempat menyebutnya sebagai villa merah jerman.

"Dan katanya kasus pembunuhan Villa Merah Jerman tidak pernah terungkap. Sehingga membuat villa ini menjadi penuh misteri".

Mungkin ada sebagian wisatawan yang menyayangkan ketika datang kesini. Karena kita tidak bisa ke area sekitar halaman. Namun pengunjung bisa melihat dan mengambil gambarnya dari kejauhan.

Tempat Wisata Sekitar Villa Jerman

Apabila kalian ingin mengunjungi tempat wisata pangalengan sekitar villa merah jerman ini. Kalian bisa singgah di point sunrise cukul, situ cileunca, dan kebun teh ketmanah, dan lain sebagainya. Atau jika kalian ingin berwisata horor di kawasan ini. Bisa berkunjung ke rumah syuting film pengabdi setan dengan tiket masuk hanya Rp. 10.000,- saja.

Alamat Villa Merah Jerman

Villa Angker di Pangalengan ini beralamatkan di Sukaluyu, Kec. Pangalengan, Bandung, Jawa Barat 40378

sumber

Jul 19, 2020

Kisah Nyata Kejar Tuyul di Kuburan Angker

Cerita Misteri Indonesia • Kisah Nyata Kejar Tuyul di Kuburan Angker - Warga di Dusun Temu, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta sempat dihebohkan penangkapan tuyul yang dilakukan seorang pemuda bernama Yudarwandi.

Kisah Nyata Kejar Tuyul di Kuburan Angker

Sejak rekaman video klaim penangkapan mahluk halus itu viral di media sosial, rumah Yudarwandi pun sempat dipadati warga karena penasaran melihat langsung wujud asli dari sosok setan yang memiliki ukuran badan mungil tersebut.

Seperti dikutip dari Harianjogja.com--jaringan Suara.com, Yudarwandi mengaku penangkapan terhadap tuyul itu dilakukan pada Jumat (22/11/2019) malam. Mahluk tak kasat mata itu ditangkap saat Yudarwanti hendak pulang ke rumah selepas mengaji.

"Sosok anak kecil ini di atap rumah orang. Saya langsung turun dari sepeda motor. Saya ikutin petunjuk dari mbah saya dulu, saya kunci dulu (dengan rajah),” kata Yudarwandi.

Dia mengaku, baru berhasil meringkus tuyul itu setelah mengejarnya hingga ke sebuah kuburan. Setelah berhasil ditangkap, dia mengaku memasukkan tuyul tersebut ke sebuah toples.

“Saya putar balik motor saya ke arah kuburan, benar di situ ada tuyul sudah kelimpungan. Di situ terjadi proses penarikan kembali. Saya sempat merasa didorong sesuatu dari belakang karena itu di kuburan angker. Saya kejar, akhirnya saya empaskan ke tanah,” katanya.

Dia pun mengaku sedari kecil kerap bersinggungan dengan hal-hal mistis. Dari kesukaannya dengan dunia gaib, Yudarwandi pun mengaku mendapatkan jimat yang diberikan gurunya.

“Saya sejak kecil memang suka hal-hal yang spiritual. Saya lalu dikasih mbah (guru spiritual) saya, yaitu rajah asma syir, namanya. Kalau kamu mengamalkan ini dan rajahnya ini, terus tarik napas insyaallah akan selamat,” katanya. sumber

Jun 7, 2020

Kisah Nyata Bus Yang Menembus Dimensi Lain

Cerita Misteri Indonesia - Bus disesatkan hantu. Kejadian ini terjadi pada bus nahas bernama “Sudiro Tunggal Jaya” yang tersesat di alas hutan gunung tunggangan pada dini hari, bukan apa apa kenapa kejadian ini bisa menjadi misteri kejadian supranatural, dikarenakan tempat yang dilalui benar benar sangat susah dijangkau oleh kendaraan besar.

Kisah Nyata Bus Yang Menembus Dimensi Lain
Kisah Nyata Bus Yang Menembus Dimensi Lain
Berangkat dari Ponorogo dan sudah selesai menurunkan semua penumpang ditempat tujuan, sopir memulai perjalanan bersama seorang keneknya menuju baturetno, sesampai pertigaan jatisrono entah bagaimana sopir melihat plang menuju baturetno belok kekiri dan dipikirnya memang sudah dekat tujuan.

Setelah mengikuti arah arahan dari plat tersbeut, sopir mulai menemui jalanan lebar dan halus menuju baturetno, melewati hutan hutan yang sangat sepi dan gelap hingga pada sebuah jalan yang menikung arah tirtomoyo sopir melihat ada orang hendak menyeberang.

Karena sebagai sopir maka secara reflek menginjak rem agar orang tersebut bisa menyeberang dahulu, namun saat itulah terjadi keanehan hingga membuatnya berkata

“Astagfirullah kok dihutan ada orang sedang menyebrang jalan kok tiba2 hilang”

Dan setelah ia berkata demikian maka membangunkan sopirnya saat busa benar benar sudah berhenti dan sulit untuk melaju, dan yang lebih membuatnya kaget adalah ternyata ia sedang terjebak dalam sebuah tikungan sempit yang sangat curam dengan kondisi jalan rusak.

Kejadian tersebut mengundang banyak masyarakat sekitar, dikarenakan mereka semua heran sebab jalan tersbeut sangat sulit dilalui oleh kendaraan kendaraan besar terutama semacam bus pariwisata yang sangat panjang tersebut, dan secara nalar kata seorang warga sebelum masuk gunung tunggangan pun seharusnya bus sudah tidak bisa dan tidak berani melewatinya.

Sedangkan pengakuan sopir adalah jalanan yang ia lewati tidaklah sempit rusak ataupun curam, bahkan ia merasa sedang melewati jalanan lebar yang sangat mulus, sehingga membuatnya terus berjalan tanpa perlu melihat keadaan kanan kiri yang kebetulan sangat lengang, hingga menemui ada orang akan menyebarang jalan tadi.

Dikarenakan kondisi jalan yang menanjak dan menurun sangat curam, sempit dan penuh lobang ditambah tidak ada lampu penerangan dan kanan kiri bukit serta jurang tentu sangat menyulitkan kendaraan kendaraan besar untuk lewat.

Dan yang lebih aneh lagi adalah tidak adanya satu lecetpun pada body bus pariwisata tersbeut, dimana seharusnya banyak lecet jika memaksakan melaju pada jalan smepit dan curam seperti dalam foto diatas, namun itulah yang terjadi keadaan bus sangat mulus hingga saat evakuasi tentunya akan mengalami lecet setelahnya dipaksa untuk bisa jalan lewat tikungan tikungan curam.

Kesimpulan Penulis Pemilik website mataketiga.com

Kesimpulan mata ketiga, jika benar kejadian seperti dituturkan sopir maka ia telah melewati dimensi gaib dimana ia seolah olah melihat jalanan yang sangat luas, hingga ada mahluk gaib yang menyetopnya untuk jauh lebih tersesat yaitu seseorang yang menyeberang jalan.

Seandainya ia tidak muncul dan sopir tidak mengerem dan menyebut Asma Allah maka keumungkinan ia akan tersesat lebih jauh keatas gunung atau malah bisa saja masuk dalam hutan tanpa jalanan, namun jika disambungkan dengan pandangan skeptis maka bisa saja sopir tersesat karena ngantuk. sumber: https://mataketiga.com/bus-disesatkan-hantu/


Jun 2, 2020

Kisah Nyata! Asep Datang Kedalam Mimpi, Yang di Kubur Bukan Aku

Cerita ini saya dapat dari teman kerja saya yang berasal dari daerah Kabupaten Bandung. Demi kenyamanan semua pihak, detail tempat dan tokoh saya samarkan. Dalam cerita ini saya menambahkan beberapa improvisasi agar pembaca dapat memahami alurnya. Selamat membaca.

Kisah Nyata! Asep Datang Kedalam Mimpi, Yang di Kubur Bukan Aku
Kisah Nyata! Asep Datang Kedalam Mimpi, Yang di Kubur Bukan Aku

Hari itu sekitar pukul 4 sore, Ibu Saodah, wanita berusia kurang lebih 35 tahun sedang mempersiapkan makan malam di dapurnya. Saat Ibu Saodah sibuk memasak, anaknya, Asep yang saat itu duduk di kelas 4 SD meminta ijin untuk bermain bersama teman-temannya.

Sepulang sekolah memang Asep biasa bermain bola ataupun permainan lainnya dengan anak-anak tetangga di lapangan kosong di pinggiran desa.

Desa tempat Asep tinggal bukanlah desa besar, hanya desa kecil dengan beberapa rumah panggung dan rumah beton semi bilik anyaman khas pedesaan. Saat itu belum ada gadget sehingga anak-anak memang terbiasa bermain di luar rumah.

Menjelang magrib, biasanya Asep sudah pulang lalu mandi dan pergi ke mushola di desa untuk mengaji. Tapi hari itu adzan magrib telah berkumandang dan langit mulai menggelarkan temaramnya sedangkan Asep belum juga pulang.

Setelah selesai memunaikan sholat magrib, Bu Saodah akhirnya inisiatif menyusul Asep ke lapangan yang ditempuh sekitar 5 menit dengan berjalan kaki dari rumahnya.

Terkadang, ada hari dimana anak-anak bermain sampai lewat magrib dan baru akan pulang setelah diomeli oleh orang tua mereka. Maklumlah, kalau lagi seru-serunya bermain bisa sampai lupa waktu.

Tiba di lapangan Bu Saodah tidak mendapati seorangpun di sana. Kemana perginya Asep, batinnya. Dengan rasa khawatir, ia pun bergegas pergi ke mushola.

Alunan sholawat terdengar saat Bu Saodah mendekati mushola, dicarinya Asep diantara anak-anak sebayanya yang sedang mengaji. Tapi Asep tak ada di sana.

Pak Ustad Sofyan yang menyadari kehadiran Bu Saodah mendekatinya dan bertanya.


“Cari siapa Bu?” tanya Pak Ustad.


“Asep datang ke musola tidak Pak?” tanya Bu Saodah dengan suara yang bergetar. 

“Tidak Buk, dari tadi Asep tidak kesini.” jawab Pak Ustad.

Pak Ustadpun membantu Bu Saodah menanyakan Asep pada murid-muridnya namun, hari ini tidak ada seorangpun yang bertemu Asep sepulang sekolah. Bu Saodah pun mulai panik, lalu kemudian ditenangkan oleh Pak Ustad yang akhirnya mengantarkan Bu Saodah menuju rumah pa RT.

Anak-anak yang sedang mengaji dititipkan pada Ridwan, salah satu murid yang sudah remaja.

Bu Saodah hanya tinggal berdua saja dengan Asep, anak semata wayangnya. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Setibanya di rumah Pak RT mereka dipersilahkan masuk dan menjelaskan kejadian yang terjadi. Pak RT lalu menceritakan bahwa Asep sempat datang ke rumahnya untuk meminta ijin mengambil beberapa buah mangga di halamannya.

Di halaman rumah Pak RT memang terdapat satu pohon mangga yang besar dan buahnya selalu ranum. Menurut penuturan Pak RT, Asep datang bersama dua orang anak sebayanya sekitar pukul setengah 5 sore.

Pak RT belum pernah melihat kedua anak yang datang bersama Asep tersebut, sehingga Pak RT menyimpulkan mungkin dua anak tersebut datang dari desa sebelah atau mungkin saudara Asep.

Namun, ada yang aneh dari kedua anak tersebut, kulitnya nampak lebih putih dan pucat dengan lingkaran hitam yang samar-samar disekitar mata.

Setelah Pak RT mengijinkan anak-anak tersebut mengambil mangga di halamannya, ia masuk ke dalam rumah dan meninggalkan anak-anak memanjat pohon. Dari situ Pak RT tidak melihat lagi Asep.

Bu Saodah nampak sangat pucat dan syok mendengarnya. Ia merasakan ada hawa dingin di tengkuknya yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia meminta bantuan Pak RT untuk mencari anaknya yang hilang.

Pak RT pun segera memberi tahu beberapa warga untuk mencari Asep bersama-sama. Bapa-bapa mulai ramai berkumpul didepan pos ronda yang berdekatan dengan rumah Pak RT.

Mereka membawa senter dan kentongan musola dan pos ronda kemudian berpencar memanggil-manggil nama Asep menyisir desa dan semak-semak sekitar desa sambil membunyikan kentongan.

Bu Saodah diperintahkan Pak RT menunggu di rumahnya ditemani dengan Bu RT. Malam semakin larut, Bu Saodah bertambah kalut, tangannya begitu dingin, sesekali iya mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.

Ia tak henti-hentinya berdoa pada Yang Maha Kuasa agar anaknya bisa kembali dengan selamat.

Sekitar pukul 1 dini hari, Pak RT dan warga akhirnya memutuskan untuk pulang setelah tidak berhasil menemukan Asep. Bu Saodah yang menangis sesegukkan ditenangkan oleh Bu RT.

Pencarian akan dilanjutkan besok pagi. Bu Saodahpun pulang kerumah dalam keadaan pasrah. Malamnya, tentu saja Bu Saodah tidak bisa tidur sama sekali. Dibenaknya hanya terbayang wajah Asep.

Pagi pun datang, beberapa orang membantu Pa RT untuk mencari Asep, tapi warga yang datang tidak sebanyak tadi malam, karena sisanya harus pergi untuk bekerja.

Salah satu warga mengusulkan pada Pa RT untuk mendatangi Mbah Anom yang merupakan orang pintar dari desa sebelah untuk membantu proses pencarian. Pak RT pun pergi dengan salah satu warga ke rumah Mbah Anom.

Di depan rumah Mbah Anom tampak sedang duduk di kursi bambu yang berada di teras sambil meminum kopi hitam dengan cangkir besi loreng khas cangkir tempo dulu.

Pak RT pun dipersilahkan masuk dan mulai menceritakan tentang kejadian hilangnya Asep. Mbah Anom tampak memejamkan mata sambil sesekali mengerutkan kening.

Ia pun berkata, bahwa Asep berada di tempat yang gelap, sempit dan lembab, kemudian ia menanyakan apakah ada sumur kering yang sudah tidak terpakai di sekitar desa.

Pak RT pun menjawab bahwa memang ada sumur yang sudah tidak terpakai dan terletak di sebelah utara desa dekat dengan semak-semak. Setelah mendapat informasi itu Pak RT langsung melesatkan motornya dan memberi tahu warga untuk mencari di sumur tersebut.

Betapa mengejutkannya warga ketika memang ada Asep di dalam sumur tersebut sedang meringkuk di dasar sumur. Wargapun turun untuk mengangkat tubuh Asep.

Tubuhnya pucat dan sangat dingin, tidak ada aliran darah yang mengalir sama sekali.

Bu Saodah yang mengetahui hal tersebut langsung menerobos kerumuman warga dan terpaku menatap anaknya yang telah tiada. Ia pun menangis dengan histeris sambil memeluk Asep. Warga yang menyaksikan kejadian itu menatap iba Bu Saodah.

Siangnya warga membantu Bu Saodah mengurus jenazah Asep dan memakamkannya.

Acara pemakaman berjalan dengan lancar disusul dengan acara tahlilan pada malam harinya. Setelah warga pulang, di rumah hanya tersisa Bu Saodah dan beberapa kerabat yang menginap.

Bu Saodah terlihat sangat terpukul atas kehilangan anaknya, berkali-kali ia jatuh pingsan dan menangis sambil menyebutkan nama anaknya.

Malam semakin larut, Bu Saodah mencoba mengikhlaskan kepergian anaknya walau berat. Ia pun berusaha untuk tidur setelah malam sebelumnya bergadang dan kelelahan. Tak butuh waktu lama untuk Bu Saodah tertidur pulas.

Dalam mimpinya, ia di datangi oleh anaknya yang datang menghampiri dengan baju kaos dan celana persis seperti yang terakhir dikenakannya.

Asep berkata,

“Ibu…..”

“Aku takut…” dengan suara yang gemetar ketakutan.

Di mimpinya, Bu Saodah tak bisa berkata apa-apa, ia hanya menyaksikan Asep saja, tanpa bisa memeluknya yang sedang ketakutan.

“Ibu…aku di sini.”

“Yang dikubur itu bukan aku bu…”

“Tolong…” lanjutnya.

Bu Saodah lalu tercekat, terbangun dari tidurnya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tangisnya berderai lagi. Ia beristigfar berkali-kali mengingat kejadian yang baru dimimpikannya.

Diliriknya jam di dinding kamarnya, jam sudah menunjukan waktu subuh, ia pun menenangkan diri sejenak dan pergi mengambil air wudhu.

Paginya, Bu Saodah menceritakan mimpinya semalam. Kerabat yang mendengakan Bu Saodah menyuruhnya untuk bersabar. Bu Saodahpun berpikiran mungkin dirinya masih terpukul sehingga bermimpi didatangi oleh anaknya.

Hari kedua dan ketiga, masih dengan mimpi yang sama. Anaknya berkali-kali mendatanginya di dalam mimpi dengan ekspresi ketakutan dan berkata, “Bu, yang dikubur itu bukan aku…”

Merasa mimpinya merupakan suatu firasat, Bu Saodah menyampaikan pada Pak RT dan memintanya untuk membantu menggali kembali makam anaknya.

Alih-alih membantu Bu Saodah untuk menggali makam anaknya, Pak RT lebih memilih untuk meyakinkan Bu Saodah kalau mimpi yang berulang itu dikarenakan Bu Saodah belum bisa mengikhlaskan kepergian anaknya.

Hari keempat, kelima, keenam, berkali-kali Bu Saodah memimpikan hal yang sama dan mendesak Pak RT untuk membantunya, berkali-kali pula Pak RT menolaknya dan meyakinkan bahwa itu hanya mimpi.

Hari ketujuh, Bu Saodah merasa tidak sanggup lagi melihat anaknya yang ketakutan di dalam mimpi. Mimpi yang sama tujuh hari terakhir ini hampir membuatnya menjadi gila. Tanpa lelah, iapun kembali meminta bantuan pada Pak RT.

Pak RT pun akhirnya luluh dan menuruti Bu Saodah untuk membantu menggali makam anaknya.

Sejujurnya, selain karena iba dan tidak tega melihat Bu Saodah yang semakin hari makin terpuruk dengan kesedihannya, di dalam batin Pak RT ia pun penasaran dengan apa yang akan terjadi bila makam itu digali.

Siang itu, Bu Saodah, dua orang kerabatnya, Pak RT dan Bu RT, serta dua orang penggali kubur datang ke makam Asep. Makamnya tampak masih baru dengan taburan bunga yang sudah mengering di atasnya.

Setelah dipersilahkan oleh Bu Saodah, dua orang penggali kuburpun mulai menggali.

Bu Saodah berusaha setegar mungkin menahan air matanya. Dalam hatinya ia tidak menyangka bahwa makam anaknya akan digali kembali.

Beberapa menit menggali, kain kafan Asep mulai terlihat, kedua penggali pun memperlambat penggaliannya, tidak ingin merusak kain kafan Asep.

Setelah selesai menggali, kedua penggali tersebut merasa heran melihat bentukan kain kafan yang membungkus Asep.

Tapi mereka tidak berkomentar apa-apa dan mulai mengeluarkan jenazah Asep yang dibantu oleh Pak RT serta dua orang kerabat Bu Saodah.

Jenazah diletakkan di samping lubang kubur yang terbuka, Bu Saodah menahan sesegukan tangisnya dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya.

Semua yang ada disitu merasa heran dengan bentukan kain kafan Asep yang lurus dan sangat kaku.

Pak RT dan salah satu kerabat Bu Saodah mulai membersihkan bagian muka jenazah Asep yang tertutupi oleh tanah.

Merekapun terheran-heran dan dengan cepat membuka tali pengikat dan kafan yang membalut jenazah Asep.

Betapa terkejutnya semua orang yang berada di sana melihat apa yang ada di dalam kain kafan bukan jenazah Asep, melainkan batang pohon pisang yang dipotong setinggi tubuh Asep.

Bu Saodah langsung lemas dan pingsan seketika. Kejadian ini pun dengan cepat tersebar keseluruh penjuru desa bahkan sampai ke desa-desa lain.

Hingga saat ini, tidak ada yang tahu pasti dimana keberadaan Asep.

Ada yang bilang Asep diculik makhluk ghaib, ada yang bilang juga Asep dijadikan tumbal pesugihan.

Entahlah, yang pasti, Asep sudah tidak pernah datang lagi ke dalam mimpi Bu Saodah. sumber https://ceritasetan.com/nyata/ibu-yang-dikubur-itu-bukan-aku/

Apr 5, 2020

Mahluk Gaib Hampir Membuatku Celaka

Cerita Misteri Indonesia - Mahluk Gaib Hampir Membuatku Celaka - Kali ini adalah artikel yang bersumber dari pengalaman penulis sendiri beberapa minggu lalu yaitu sekitar 21/09/19 menjelang pukul 19.00 bagian Ponorogo, kisah ini dialami dan memberi pencerahan tentang bagaimana hantu membuat orang celaka saat berkendara.

Mahluk Gaib Hampir Membuatku Celaka
Mahluk Gaib Hampir Membuatku Celaka
Kejadian tersebut terjadi saat penulis habis mencari makan malam dengan menaiki motor yang baru saja turun plat nomernya dari dealer, karena kebetulan penulis juga suka touring maka ketika memakai motor matic kecil semacam fino dan mio ataupun vario tentu bikin pegel seluruh badan.

Akhirnya sih dijual itu fino dan diganti dengan lexy S, walau 125cc namun sudah pakai VVA dan jok lebar, jadi keinget NMAX yang dulu penulis jual hwehehehe, malah ngomongin motor, kebiasaan touring ini membuat penulis seringkali mengalami kejadian mistis namun jarang tertuang dalam tulisan atau video karena tidak punya action cam… ngarep ada yang kirim.

Hingga terjadilah kejadian beberapa minggu kemaren dan penulis merasa harus menuliskanya dalam website ini, karena pengalaman tersebut mungkin berguna bagi para pengendara motor ataupun mobil saat melewati jalan angker dan diganggu hantu.

Lokasi Tempat Muncul Hantu

Setelah penulis selesai makan malam disebuah tempat makan yang lumayan jauh dari rumah, maka menjelang pukul 19.00 setempat memutuskan untuk kembali kerumah, medan yang dilalui penulis juga jalur yang biasa dilewati menuju rumah sehari hari karena memang jalan desa yang nyaman dilalui.

Saat pagi hari akan terlihat indah penuh dengan pohon dan jalan yang menurun, namun menjelang malam jalan tersebut menjadi lengang dan gelap serta menanjak walau tidak begitu jauh ya, kira kira hanya sekitar 1-2km saja perjalanan dari batas kota menuju rumah penulis.

Ditengah tengah perjalanan maka penulis selalu melewati sebuah areal pemakaman kuno, dimana disitu juga terbaring bupati pertama Ponorogo yang megah dan selalu banyak peziarah yang tirakat atau nenepi disana, biasanya tidak ada apa apa namun kali ini ada keanehan yang muncul saat berkendara.

Kira kira kurang dari 15meter sebelum melewati pekuburan secara samar perlahan jelas melihat ada sosok bayang bayang manusia berdiri dibahu jalan sebelam kanan, sedang penulis melaju disebelah kiri maka kami berseberangan, dengan jarak segitu dan kecepatan hanya 40-50km maka terlihat jelas meski terbaur dengan bayang bayang pohon.

Nyaris Dibuat celaka hantu

Semakin dekat terlihat sosok tersebut mulai bergoyang dan seolah olah akan menyeberang, yah sosoknya sih memang setinggi manusia pada umumnya membuat tidak ada perasaan curiga apapaun, hingga setelah jarak kira kira kurang dari 3 meter lah saat penulis sudah memelankan laju hingga 30km, tiba tiba saja sosok tersebut berlari menyeberang kearah penulis.

Dengan jarak sedekat itu maka jelas tidak bisa menghindari tabrakan, perasaan penulis sudah campur aduk “wahduh nabrak orang nih, ribet dah urusan” hingga benar saja, dari penglihatan sudut mata sosok tersebut sudah berada disamping motor dan sekejap lagi pasti bakal nubruk atau ketubruk ni, dua duanya bikin runyam dan masalah sampe hukum nih pikirku.

Namun tidak sampai nubruk, penulis melihat sebuah kenyataan dari kejadian yang sangat ganjil dengan keadaan sadar dan berada dijalan raya, sosok yang menyeberang ini bukanlah manusia ternyata, saat hampir bersentuhan karena tabrakan terlihat sangat jelas sosok tersebut bukanlah manusia.

Tubuhnya hanya berupa bayang bayang atau semacam asap hitam dengan taring dan mata yang merah berpendar ditempat yang seharusnya adalah kepala, sosok tersebut tidak bisa dihindari dan tetap harus tabrakan apalagi setelah penulis menyadari itu bukan manusia.
“ya tabrak aja sekalian, toh nggak ada hukum yang dilanggar”
Benar saja akhirnya sosok tersebut menubruk kendaraan sedangkan penulis berpikir tabrak aja sekalian, klop dah ya, kejadian yang seram muncul ketika kami mengalami saling tubruk dengan kecepatan motor sekitar 30km, lumayan keras juga kalau jatuh dalam benak terbesit rasa sakitnya.

Lepas Dari Ancaman Maut – Nyaris Dibuat Celaka Hantu

Sesaat sosok tersebut sudah berada didepanku seolah olah tubuhnya hanya semacam asap yang menembus badan fisik dan motor, sesaat aku masih tertegun dan heran bagaimana bisa ada kejadian dan mahluk semacam ini, kayak difilm film saja namun ini dilamai secara nyata.

Penglihatan mata tiba tiba seperti tertutup kelambu hitam dan membuat pandangan ke jalan raya menjadi samar samar dan gelap, nafas seolah olah terhentu dan tidak bisa menyadari kondisi sekitar secara utuh, disitulah penulis membaca doa pendek pada Tuhan serta memakai ilmu supranatural untuk melawan dan menyelamatkan diri dari situasi genting.

Benar saja pandangan menjadi lebih gelap dan tidak bisa melihat apa apa, waktu berjalan seolah olah lebih lambat hingga tiba tiba penulis tersadar dan bisa dengan tenang lagi melihat dari belakang ada kendaraan yang melaju sangat kentjang tepat berada disamping sebelah kanan seolah olah tidak melihat penulis.

Mungkin saja jika tidak segera sadar maka akan ketabrak motor tersebut dengan sangat keras, beruntung masih dalam lindungan Tuhan, akhirnya memutuskan menepi disamping pintu masuk pemakaman dan melihat kebelakang jika saja mahluk tersebut masih ada kan enak bisa tak lempar pake batu, ternyata tidak ada siapapun lagi hanya bayang bayang pohon yang menari nari terkena sinar lampu jalan.

Akhirnya memutuskan segera kembali menuju rumah lagi, keburu ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan pengalaman tersebut sangat menginspirasi, ya menginspirasi karena melihat bagaimana proses hantu usil yang sering membuat orang celaka saat berkendara, kebetulan juga dilokasi tersbeut tak jarang ada orang kecelakaan tunggal.

Kesimpulan

Maka inilah pokok pokok penting yang bisa penulis bagikan kepada para pembaca sekalian, bahwa saat berkendara sebelum dan sesudah sampai tujuan wajibkanlah berdoa memohon perlindungan agar selamat dimanapun berada kepada Tuhan sesuai keyakinan anda masing masing.

Hantu pembuat celaka pada jarak tertentu sudah akan muncul dan membuat kita ragu untuk melaju atau mengerem, namun saat sudah dekat ia akan tiba tiba menubruk atau memasang posisi tepat ditempat yang sulit kita hindari saat lengah.

Maka ketika sudah melihat dari jauh, injaklah rem perlahan dan usahakan agar bisa menghindarinya, namun jika sudah yakin itu hantu ya tabrak saja karena pasti tidak ada konsekuensi apapaun, tapi demi kebaikan hindari saja sebisa mungkin jangan terpancing emosi atau rasa takut.

Jangan berkendara menjelang pukul 18.00 ataupun 19.00 saat kondisi jalanan lengang dan kondisi badan dan pikiran kurang stabil, karena itu sangat menguntungkan mahluk gaib negatif untuk menganggu dan mudah mendampakkan dirinya sewaktu waktu.

Saat sudah melihat sosok yang disinyalir hantu ada baiknya mengambil jalan tepi/kiri agar bisa berhenti pelan pelan saat mengalami hal yang sama dengan penulis, yaitu penglihatan ditutup dan tidak bisa menyadari kondisi sekitar dengan baik.

Diharapkan berada dalam lajur kiri bisa lebih aman karena bisa berhenti dengan resiko ditabrak dari belakang lebih kecil daripada berhenti atau oleng ditengah jalan, jadi itulah kesimpulan kesimpulan yang bisa penulis berikan dan semoga bisa menjadi rambu rambu saat pembaca mengalami atau sebagai pengetahuan saja.

Sekian artikel ini ditulis sesuai dengan pengalaman sendiri yang dialami, juga perlu digaris bawahi bahwa hantu usil yang menganggu penulis tadi bukanlah dari keangkeran makamnya akan tetapi memang hantu liar yang selalu membuat celaka orang yang melewatinya, jika ada salah kata atau kekurangan mohon maaf dan silahkan berkomentar ataupun bertanya apda kolom komentar. sumber : mataketiga.com (pengalaman penulis blog mataketiga.com)

Jan 23, 2020

Kisah Nyata Hantu Wanita Memesan Baso

Cerita Misteri Indonesia -  Cerita mengenai hantu wanita beli bakso ini diangkat dari kisah nyata kejadian yang dialami sendiri oleh warga yang bernama mang Supeno. Mamang ini adalah salah seorang pedagang bakso keliling di daerah Jakarta Timur.
Kisah Nyata Hantu Wanita Memesan Baso
Kisah Nyata Hantu Wanita Memesan Baso
Kisah ini memang cukup mengasyikkan, terlepas dari percaya atau tidak, makhlus halus yang suka iseng memang ada dan dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Peristiwa ini terjadi pas malam Jumat Kliwon saat mang Supeno sedang berkeliling di salah satu perkampungan untuk menjajakan bakso. Malam itu tidak seperti biasanya, jalanan di perkampungan tempat saya biasa menjajakan bakso terasa sepi. Sampai jam 9 malam baru 10 mangkok bakso yang saya jual.

“Sepi banget malam ini” kata saya dalam hati sambil berjalan mendorong gerobak dan memukul-mukul kentongan untuk memberi tanda ke warga sekitar bahwa ada tukang bakso yang sedang lewat.

ad970

Saat tiba di sebuah simpang pertigaan saya sempat bimbang, mau belok ke kiri apa ke kanan. Dua-duanya terlihat sepi. Akhirnya saya putuskan ambil jalur kanan. Baru melewati dua rumah, ada seorang wanita bergaun putih keluar dari pagar rumah memanggil saya.

“Bang, baksonya satu ya”. kata wanita tersebut.

“Ok” jawab saya dan saya lihat wanita itu kembali masuk pagar.

Saya pun langsung menyiapkan satu porsi bakso yang dipesan.

Setelah selesai menyiapkan satu mangkok bakso pesanan wanita itu, sayapun mengantarnya ke rumah tempat wanita itu. Sampai di depan pagar saya sempat heran kok pintu pagarnya ditutup ya, malah pake dikait lagi.

Padahal perasaan ibu tadi tidak terdengar membuka atau menutup pagar, kata saya dalam hati. Namun kutepis keanehan tersebut, saya lalu buka pagar itu. Walaupun diselot tapi tidak dikunci. Saya langung masuk kemudian menuju pintu rumah yang tertutup.

Sesampai di depan pintu, perlahan saya ketok pintunya.

“Tok tok tok, permisi, ini baksonya buk” kata saya kepada orang di dalam yang saya yakini adalah wanita penghuni rumah ini.

Karena tidak kunjung ada jawaban dari dalam rumah, saya ketok kembali pintunya “tok tok tok, permisi, ini baksonya buk” kata saya sembari agak keras.

Akhirnya terdengar langkah kaki dari dalam rumah dan pintu pun dibuka perlahan. Yang membuka adalah seorang wanita muda dan bertanya “ada apa mas?”

“Ini mbak, tadi ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso sama saya” jawabku kepada wanita muda itu.

“Di rumah ini tidak ada ibu-ibu mas, saya di sini cuma tinggal bertiga dengan suami dan anak saya mas” kata wanita muda itu.

“Ya tadi sih masuk ke sini mbak” kata saya.

Makhluk Halus Penghuni Rumah Yang Suka Iseng
Tiba-tiba seorang lelaki muda yang tentunya suami wanita muda ini keluar dari dalam rumah dan bertanya “ada apa sih malam-malam kok ribut-ribut?”

“Abang tukang bakso ini mengantarkan bakso, katanya ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso mas. Padahal kan di rumah ini cuma kita bertiga” jawab wanita muda itu.

“Gitu aja kok ribut, ya sudah sini baksonya, biar saya yang makan, tapi bikinkan satu lagi ya buat istri saya” kata lelaki muda itu.

Sayapun bergegas menyerahkan semangkok bakso kepadanya dan bergegas menyiapkan semangkok lagi.

Setelah selesai menyiapkan, saya antar bakso kembali ke rumah tersebut.

“Ini mbak baksonya” kata saya sambil menyerahkan semangkok bakso kepada wanita itu.

“Duduk sini dulu mas” kata lelaki muda itu sambil mempersilakan saya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu.

“Ya mas, makasih” kata saya. Dia makan di teras, sementara istrinya masuk membawa bakso, tak lama kemudian istrinya menyerahkan mangkok yang sudah kosong kepada saya, mungkin langsung dipindah ke mangkoknya sendiri.

“Emang bener tadi ada ibu-ibu pesan bakso?? jangan-jangan kamu cuma ngarang aja biar baksomu laku” kata lelaki itu berkelekar sambil tersenyum kepada saya.

“Untuk apa saya bohong mas, saya kan tiap hari jualan di sini. Memang benar kok tadi ada ibu-ibu yang pesan” jawab saya.

“Ciri-cirinya bagaimana?” tanya lelaki muda itu. ya ibu-ibu tidak terlalu tua sih, pakai baju panjang warna putih, rambutnya agak panjang, jawab saya.
lalu dari mana asalnya dan kemana? tanya lelaki muda itu lagi.

“Tadi keluar dari sini dan masuk lagi ke rumah ini mas, tapi yang saya heran, kok saya tidak mendengar dia membuka pintu dan menutup pintu pagar, padahal waktu saya masuk, pagarnya ditutup dan diselotin, waktu saya buka selotnya, bunyinya cukup keras mas” jawab saya.

“Oh gitu toh, kata orang-orang di sekitar sini memang sering terjadi seperti yang mas alami, memang dia kadang-kadang muncul dan suka iseng, tapi saya sampai hari ini belum pernah bertemu sama dia” kata lelaki muda itu.

“Maksudnya mas?” tanya saya lagi.

Lelaki muda itu menjawab “kata orang-orang di sekitar sini, dia itu makhluk halus yang tinggal di rumah ini, itu sih kata orang, kami sendiri yang tinggal di sini belum pernah bertemu.”

Langsung merinding bulu kuduk saya mendengar penjelasan lelaki itu, seketika ada rasa takut menjalar di tubuh saya. Rupanya ekspresi ketakutan saya terlihat oleh lelaki muda itu.

“ya gak usah takut mas, biasa saja. Ini uangnya” kata lelaki itu sambil menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah kepada saya.

“Baik mas, makasih ya mas, permisi mas” kata saya sambil bergegas cabut meninggalkan rumah itu.

Setelah selesai saya letakkan mangkok di dalam gerobak, dengan penuh rasa ketakutan, sayapun langsung lari sambil mendorong gerobak menjauhi daerah tersebut. source: misteriku.com
Baca Juga: Kisah Nyata Mahasiswa Nikah Dengan Siluman

Jul 16, 2019

Kisah Nyata Mahasiswa Nikah Dengan Siluman

Cerita Misteri Indonesia - Penulis menurunkan tulisan tentang kota misteri di Palu, Uwentira. Kota mistik ini memang sangat terkenal di Palu, Sulawesi Tengah. Sudah begitu banyak cerita tentang misterinya kota Uwentira. Karena banyak warga yang mengakui bahwa mereka pernah masuk ke alam lain, alam siluman di kota Uwentira ini.
Kisah Nyata Mahasiswa Nikah Dengan Siluman
Dalam dunia perdukunan atau di ranah supranatural, banyak orang percaya akan adanya dunia siluman itu seperti di Uwentira. Lebih jauh, dalam dunia perdukunan atau dunia para pencari ilmu di ranah supranatural, dalam dunia kegaiban, yang akrab dengan “makhluk” yang disebut jin, kerap terdengar bahwa seseorang bisa nikah atau kawin dengan jin.

Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia meyakini bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi, sebab bila kita berpikir secara rasional bagaimana bisa dua makhluk yang berbeda dapat berhubungan secara biologis dan lain-lain. Manusia merupakan makhluk yang berasal dari bumi atau tanah, sedangkan jin merupakan makhluk yang tercipta dari api.

Namun, bagi segelintir orang sangat percaya itu. Dan jika terjadi perkawinan atau hubungan biologis antara dua makluk itu, terlahirlah anak-anak jin.

Hal ini dapat dipahami secara logika, sebab bagaimana mungkin dapat menghasilkan anak manusia. Juga kaena dalam proses reproduksi dalam manusia dibutuhkan pembuahan yakni sperma yang dapat membuahi sel telur pada rahim seseorang.

Dan percaya atau tidak, di Uwentira, kota penuh misteri atau kota siluman yang populer itu, pernah begitu gempar terdengar kabat bahwa seorang mahasiswi desa namanya Lin dalam beberapa hari tidak pulang ke desanya. Pencarian dilakukan tidak ditemui.

Dan setelah diketemui, sikap Lin kerap terasa aneh dan tidak seperti biasanya, tidak seperti Lin yang sebelumnya. Ternyata, menurut pengakuan Lin sendiri, dirinya sudah bersuamikan dengan seorang penghuni kota siluman Uwentira.

Inilah kisahnya, seperti  kerap diceritakan kepada masyarakat di sana. Bahwa, suatu malam, Ardin, aman Lin menceritakan kembali saat dia mengantar Iin. Senin pagi itu, sekitar pukul 10.15 Wita, Iin tiba-tiba datang ke rumah Ardin yang wilayahnya masih di Desa Sidera. Jarak rumah mereka sekitar 100 meter. Mulanya Iin minta tolong diantar ke Palu, bukan ke Uwentira.

Bergegaslah mereka pagi itu dari Sidera menuju Palu. Yang dipakai berboncengan sepeda motor matic milik Iin. Sebab kondisi motor Ardin agak kurang normal.

Baru beberapa menit di perjalanan, tiba-tiba Iin meminta sang paman supaya mengantarnya ke Uwentira saja. Tidak jadi singgah di Palu. Begitu mendengar kata Uwentira, perasaan Ardin mulai tidak enak. Dia pun menanyakan ada urusan apa di sana.

Ardi  pun tidak mau nanya lagi, karena kalau ditanya, biasanya Lin marah-marah lantarankesal.  Maka Ardin pun nurut saja. Supaya tidak mau terjadi adu mulut, Ardin nurut saja. Sepeda motor pun dipacunya menuju Palu, berjarak kurang lebih 10 km.

Tiba di Palu, sempat singgah isi BBM di SPBU Jalan Sisinga Mangaraja. Tangki motor diisi full. Setelah selesai, Iin langsung meraih stir motor. Mereka bergantian saling bonceng menuju Uwentira.

Sepanjang perjalanan, terutama di jalur gunung Kebun Kopi, Ardin sempat ketakutan. Soalnya, Iin memacu motor dengan kecepatan tinggi. Ternyata Iin kejar waktu. Jam 11 tepat sudah harus sampai di lokasi Uwentira. Tidak boleh telat. Mungkin sudah ada perjanjian waktu antara Lin dengan suaminya sang siluman. 

Sesampainya di Uwentira, Iin mengajaknya lagi bercakap-cakap ringan. Karena sepanjang jalan, mulai dari SPBU Sisinga Mangaraja sampai di tujuan, Iin tak satu kata pun bicara. Begitu juga Ardin, dia tak lagi memberanikan diri menegur atau bertanya. Apalagi sampai mengingatkan supaya jangan terlalu ngebut.

Saat itu, kepada pamannya Ardin, Lin berterus terang bahwa dirinya sudah menikah atau kawin dengan suaminya siluman di kota Uwentira. Lin minta agar pamannya tidak beritahu ke orang tuanya.

Ardin terdiam. Perkataan Iin tak dihiraukan. Antara percaya dan tidak, dengan apa yang baru saja didengarnya. Lantaran tak mau keponakannya marah atau tersinggung, beberapa menit kemudian barulah Ardin manggut-manggut merespons ucapan Iin.

Setelah itu, Iin melanjutkan lagi pembicaraan. Katanya yang menikahkan mereka Nene Rante. Sosok itulah menurutnya banyak berperan di balik pernikahan dia.

Sekadar diketahui, di dunia lain Tanah Kaili di Sulteng, nama Nene Rante lebih dikenal dengan sebutan “Mangge Rante”. Fotonya banyak beredar di masyarakat dengan ciri mulutnya mengeluarkan asap. Mungkin karena terpaut usia yang cukup jauh, sehingga Iin menyebut Mangge Rante dengan panggilan Nene.

Sebelum balik lagi ke Sidera, remaja berjilbab ini sempat menanggalkan asesoris cincin dan kalung yang dipakainya. Lalu diberikan kepada Ardin. Tersisa sendal dan baju yang melekat di badan. Kemudian, dia berpesan supaya kepergian ke Uwentira jangan diberitahu ke ayah dan ibunya.

Setelah menghidupkan mesin motor dan beranjak pergi, Ardin sempat menoleh ke arah Iin. Dia melihat Iin menuju tangga semen, lokasi yang disebut-sebut pintu gaib alam Uwentira.

Sepanjang perjalanan, Ardin tak habis pikir dengan apa yang dialami Iin. Apakah yang didengar dan disaksikan tadi, hanya gurauan belaka, atau memang benar terjadi.

Ternyata, Lin pun berkata bahwa suatu waktu dirinya akan tinggal menetap di Uwentira, kota siluman itu. sumber

Feb 17, 2018

Sopir Angkot Disesatkan Tiga Hantu Cantik

Cerita Misteri - Sopir Angkot Disesatkan Tiga Hantu Cantik | Percaya tidak percaya, seorang sopir mikrolet jurusan Pedurungan, Semarang Barat-Mangkang, Semarang Timur mengalami kisah mistis. Kala itu Mukharom (41) membawa penumpang, tiga perempuan. Konon kabarnya wanita itu adalah penghuni Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota, Kota Semarang.

Urban Legend Hantu Korban Aborsi "CIBBIU" Sulawesi

Cerita Misteri - Urban Legend Hantu Korban Aborsi "CIBBIU" Sulawesi | Tanah Indonesia kaya akan berbagai cerita yang sangat menarik. Ada banyak kisah mistis yang dapat dijumpai dari berbagai wilayah di Indonesia.

Feb 6, 2018

Misteri Hantu Dikamar Mandi Sekolah bandung

Cerita Misteri - Misteri Hantu Dikamar Mandi Sekolah Namaku Reza, aku sekolah di salah satu SMA Swasta di kota Bandung. Sekarang aku beranjak naik ke kelas 2, selama kurang satu tahun lebih aku bersekolah disana akhirnya aku tahu cerita yang tersimpan di balik kelasku ini. Ada yang bilang kalau sekolahku ini dijuluki sekolah paling seram di kota Bandung, karena ini juga sekolahku ini adalah tempat persimpangan makhluk halus.

Feb 5, 2018

Kisah Nyata Anak Yang Diculik Genderuwo

Cerita MisteriKisah Nyata Anak Yang Diculik Genderuwo | Jaman dahulu dijogja masih belum dialiri listrik,sehingga kegelapan abadi masih menyertai kehidupan penduduk disana.Suatu sore menjelang maghrib,seorang anak sedang menangis dengan pipi bengkak,bukan karena habis dihajar orang tuanya ataupun hapis mencium aspal,karena jaman itu belum ada aspal disana.Anak itu menderita sakit gigi yang sangat hingga membuatnya menangis kencang diruang makan.Ibu anak itu pun jengkel dan pergi,bukan pergi minggat atau jadi TKW,tapi ibu anak itu pergi keruang tamu.

Mar 25, 2017

Tersesat di Alam Jin Selama Seminggu Karena Antarkan Pulang Kakek Pencari Kayu Bakar

Cerita Misteri Indonesia - Cerita Tersesat Di Alam Jin Penghuni Sendang, ternyata memang benar kebaradaan alam jin atau siluman itu memang ada suasana disana sangat tenang lingkungannya bersih penduduknya juga ramah sehingga membuat aku tidak menyadarinya kalau waktu itu aku telah memasuki alam ghaib.


Aku anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki dari tiga bersaudara, aku kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung dan memancing ikan merupakan kegemaranku dalam mengisi liburan.

Hari itu kamis selepas shalat subuh dengan berjalan kaki aku sudah berangkat pergi memancing ikan, kali ini tujuanku adalah sebuah sendang yang berada disebuah hutan jati milik salah satu perusahaan yang berlokasi tidak jauh dari kampungku.

Sendangnya sangat luas dan airnya tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau yang sangat panjang karena disendang itu terdapat sumber mata air. Biasanya beberapa teman-teman dari kampung sebelah juga sering mancing disendang ini namun kali ini mereka tidak menampakan batang hidungnya sehingga acara memancing ikan kali ini aku hanya sendirian saja.

Memang jarang sekali orang mau yang memancing ikan disendang itu karena memang tempatnya berada didalam hutan jati yang sulit dilalui kendaraan sehingga untuk menuju kesendang itu harus berjalan kaki menyusuri hutan jati.

Banyak sekali ikan tangkapanku hari ini hingga saking asyiknya aku tidak sadar bahwa hari mulai gelap, aku pun bergegas beranjak pulang dengan membawa ikan hasil tangkapan yang cukup banyak, namun diperjalan aku bertemu dengan seorang kakek yang sudah sangat tua dan memintanya untuk diantarkan pulang sehingga membuatku tidak tega melihatnya.

Kakek itu membawa seikat kayu bakar yang katanya dia habis mencari kayu bakar dihutan itu, karena hari sudah mulai gelap berbekal lampu senter yang sengaja aku bawa dari rumah dengan suka rela aku mengantarkan kakek itu pulang kerumahnya.

Perjalanan kami tidak begitu jauh sehingga tidak beberapa lama kemudian kami pun memasuki sebuah kampung, diperjalanan kami berpapasan dengan beberapa penduduk namun tidak seorang pun yang aku kenal, tapi aku akui penduduk kampung itu sangat ramah karena aku lihat setiap berpapasan mereka selalu saling bertegur sapa.Sempat terpikirkan dalam pikiranku kok baru kali ini aku melihat perkampungan ini yang bisa dikatakan suasananya sangat rame serta banyak juga penduduk kampung ini yang memiliki kendaraan mewah dan rumah yang besar-besar, namun aku tidak begitu mempedulikannya yang penting aku dapat mengantarkan kakek ini sampai keru
mahnya.

Sesampainya dirumah kakek itu kami disambut hangat oleh istrinya kakek itu dan aku pun dipersilahkan masuk, awalnya aku menolak untuk singgah tapi karena sekedar menghargai mereka akupun menurutinya, kakek tua itu tinggal dirumah itu hanya berdua saja dengan istrinya yang juga sudah tua renta.

Aku pun menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum walaupun penghuni rumah ini sudah pada tua namun tata ruang rumah mereka sangat mengagumkan dan juga kulihat banyak terdapat guci-guci keramik yang sangat mengkilap mungkin penghuni rumah ini sangat apik pikirku.

Tetapi baru beberapa menit saja kami duduk dan berbincang-bincang tak lama kemudian datang seorang tamu yang memang sudah tidak asing bagiku, dia adalah mama ajengan jafar salah seorang tokoh agama dikampungku.

Dia pun berbicara kepada kakek itu namun aku tidak begitu menangkap pembicaraan mereka karena kedua mataku sedang fokus melihat-lihat seisi ruangan tamu rumah kakek itu dan yang bisa kutangkap dari pembicaraan mereka yaitu soal maksud dan kedatangannya untuk menjemput aku serta membawa aku untuk kembali pulang kerumah dan sikakek pun mempersilahkannya, dalam hatiku mungkin mama ajengan Jafar ini disuruh orang tuaku untuk menjemput aku disendang mungkin mereka khawatir karena memang hari sudah gelap tetapi aku belum juga pulang.

Setelah itu kami berpamitan kepada kakek dan nenek itu, namun apa yang terjadi setelah itu aku melihat disekelilingku banyak berkumpul anggota keluarga, kerabat dan tetangga yang sedang membacakan ayat-ayat al-qur’an dan kulihat juga ada mama ajengan jafar disamping tempat aku tertidur.

Sejenak aku terdiam ternyata aku sudah berada diruangan tengah rumahku dan kulihat raut kegembiraan dari semua orang disekelilingku setelah melihat aku terbangun dan kesadaranku terlihat pulih.

Mama ajengan jafar pun memberikan segelas air putih untuk aku minum lalu dia pun menceritakan bahwa aku sudah seminggu lebih tak sadarkan diri sepulang mancing disendang itu.
Lalu dia pun menceritakan bahwa aku sudah Tersesat Di Alam Jin Penghuni Sendang yang terdapat disekitar sendang itu sehingga dengan ilmu yang dimilikinya dia menjemput aku kesana dan alhamdulillah keadaanku dalam sehat-sehat saja dan bisa kembali pulang dengan selamat.

Dalam pikiranku bertanya-tanya kok aku tidak sadarkan diri sampai seminggu lebih sementara aku mengantarkan kakek itu pulang kerumahnya hanya beberapa menit saja. Dari semua kejadian itu aku hanya bisa berserah diri kepadaNya, bisa kembali pulangpun aku sudah bersyukur karena Semua itu hanya Allah yang tahu.

BACA JUGA : 3 Mitos Saat Menjelang Magrib

Mar 18, 2017

Kisah Nyata Dimintain Tolong Sama Hantu Perempuan


Duamisteri.com - Kisah nyata dari temen saya yang bernama Boy, Ini kisah beneran yang dialaminya dan diapun sering sompral berkata bahwa tidak takut hantu.

Suatu malam, Boy lagi main ke tempat temennya di Apartemen Brickriver City (diterjemahin bahasa indonesia ya), itu lho yang lokasi pembunuhan Holly, istri pejabat. Dari awal masuk kawasan apartemen suasana udah hening banget, gada suara apa-apa en ga ada siapa-siapa di sekitar sana. Tapi dasar orangnya cuek, si Boy ga ngerasa gimana-gimana toh pikirnya mungkin kebetulan aja lagi sepi.

Nah trus dia naik ke elevator ke lantai 4, dimana apartemen temennya berada. Di dalam lift, dia sendiri. Sambil main-main handphone, tiba-tiba matanya nangkep sesuatu di sudut lift. Ada sesuatu kayak gumpalan warna merah gitu. Heran sama benda apa itu, diinjek-injeknya pake ujung sepatu. Bendanya agak-agak kenyal dan basah gitu, kaya daging. DING! Lift dah sampe di lantai 4. Sejenak perhatian si Boy teralih waktu pintu lift ngebuka. Waktu dia liat lagi kebawah tempat benda tadi berada, jreeng udah ilang gan. Udah bersih aja tuh sudut lift. Dasar si Boy cuek, dia ga mikir panjang en lanjutin jalan ke tujuannya.

Nah, lokasi unit temennya ini harus lewati sekitar 3 belokan koridor gitu. Saat mo sampe belokan pertama, si Boy ngeliat dalam keremangan cahaya tuh dari tepian dinding kayak ada cairan yg ngerembes gitu. Warna merah. Pas makin lama makin deket, eh cairannya ga keliatan lagi dan dindingnya pun kembali bersih. Dari sini dia mulai ngerasa aneh. Nah dia coba ga gubris perasaannya, jalan terus ampe belokan kedua. Disini dia ngeliat sesuatu lagi kaya ada untelan warna hitam gitu. Waktu dideketin, ternyata itu potongan rambut gan...kepangan rambut yang kepotong gitu. Nah dia mulai nyadar ada yang ga beres nih gan, dikasi liat yang aneh-aneh mulu. Udah mulai takut dia. Dipercepat langkahnya, tinggal satu belokan lagi sampai ke unit temennya tersebut. Pas udah sampai belokannya, tiba-tiba langkahnya kehenti........

Jalannya dihalangi oleh seorang cewek yang penampilannya DP banget! Ceweknya chinese (no sara ya), rambutnya dikepang dua tapi sebelahnya udah ga ada. Mukanya pucet banget, trus sebelah tubuhnya udah hancur terkoyak gitu, dan kakinya ga napak! Seumur-umur pertama kali dikasi liat yang begituan bikin si Boy ini lunglai lututnya, ga bisa lari. Dan pada saat itu matanya ga bisa lepas dari pemandangan DP di depannya. Si cewek ini gerakin bibirnya tapi ga bersuara. Dia seakan ngomong,

"...tolong...saya..."

Abis si cewe itu ngomong begitu, akhirnya si Boy bisa ngumpulin lagi sisa-sisa enerjinya dan ngibrit ngelewatin si cewe DP ampe nyampe ke unit temennya. Langsung digedor-gedor, trus ngibrit masuk sambil ngos-ngosan gan! Temennya bingung pada nanya kenapa, tapi dia kagak cerita. Katanya malu, soalnya dia sering sompral ke orang-oranr kalo dia kagak takut yang begituan. Eh taunya dikasi liat beneran. Sejak saat itu jadi kapok doi gan, trus malah jadi parnoan.

BACA JUGA : Misteri Kampung Hantu Jadi-jadian di Lombok

Mar 11, 2017

Kisah Nyata Bertemu Hantu Cantik di Hotel Banjarmasin Kalimantan


Cerita Misteri Indonesia • Kisah Nyata Bertemu Hantu Cantik di Hotel Banjarmasin Kalimantan - Ketika saya dapat tugas ke Banjarmasin. Menginap di sebuah hotel berlantai 7 yang ada di tengah kota. Saya dapat kamar di lantai enam, menghadap kantor pos dan KFC yang ada di seberang jalan.

Suatu siang saya mau shalat zuhur, Saya malas naik ke kamar karena terlalu lama Saya tanya petugas hotel di mana mushalla? Ternyata ada di lantai tiga, dekat lift.

Sesampai di mushalla, ternyata mushalla penuh karena da orang seminar. Di lantai tiga memang ada ruang untuk seminar. Seorang staf hotel menyarankan saya turun ke lantai dua. Katanya di sana ada mushalla lain. Ia menunjukkan saya tangga menuju lantai dua.

Sesampai di lantai dua, saya tidak menemukan bangunan seperti halnya bangunan hotel yang lain. Yang ada adalah bangunan yang sepertinya belum selesai. bahan-bahan material masih berserakan, ada kamar-kamar dari papan. Sedikit ke depan, saya menemukan sebuah gang yang agak panjang. di sisi kiri saya dinding berwarna putih, di sisi kanan saya beberapa ruangan yang disekat dengan papan.

Karena tidak menemukan mushalla, saya terus menyusuri lorong itu. Dari arah depan saya seorang perempuan berjalan menuju ke arah saya. Pakaiannya rapi, tinggi, rok selurut, pakai baju laiknya pegawai hotel. Nampak cantik dengan rambut sepunggung yang terurai tidak diikat. Namun sebelum berpapasan dengan saya ia belok kiri (sebelah kanan saya) dan masuk ke sebuah kamar. Saya melanjutkan perjalanan hingga ujung gang.

Di ujung gang ada beberapa kamar kerja yang nampaknya masih darurat. Saya berbicara dengan seorang laki-laki yang  sedang bersiap-siap hendak pergi. Saya tanya di mana mushalla. “Oo… ikut saya, kebetulan saya mau ke atas (antai tiga)”, katanya. Saya ikut dia.

Sambil berjalan di gang yang tadi saya lalui, si laki-laki bertanya:
“Apa abang ada lihat perempuan lewat di sini tadi?”
“Ya, saya lihat”
“Kemana ia pergi?”
“Dia masuk ke ruang itu” sambil saya tunjukkan temat di mana perempuan tadi masuk.
“Ya… ia selalu berjalan di sini dan selalu masuk ke ruang itu. Dulu kami kantornya di situ (tempat perempuan tadi masuk), tapi kemudian tidak tahan, kami pindah ke ujung gang.”
“Tidak tahan kenapa?”
“Ya.. tidak tahan dengan perempuan itu. Terkadang komputer mati sendiri. Kalau sore kita tinggalkan mati, besoknya sudah hidup.  Ada suara aneh, ada bau aneh, ada suara macam-macam di ruang sebelah. Pokoknya sangat tidak nyaman.”
“Apa hubungannya dengan si perempuan?’
“Perempuan itu yang melakukannya. Dia selalu menampakkan diri, tapi dia tidak ada. Dia hantu, bang”
“Haahhh….. masa? “
“Kalau tidak percaya, lihat ruang tempat di masuk tadi.” Saat itu kami persis di ruang tempat perempuan itu masuk. Si laki-laki berhenti dan menunjukkan saya ruang itu. Ternyata sebuah ruang keci, dipenuhi kayu bekas dan plastik semen.”Apa mungkin perempuan masuk ke sini?” tanyanya.

Saya benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang baru saya alami. Berjumpa dengan hantu. Saya menyesal saat itu tidak memotretnya.

Kiriman : Agam Sidro

BACA JUGA : Cerita Misteri RSU Mataram, Pelayanan Dokter dan Suster Hantu

Mar 5, 2017

Kisah Nyata, Anak Kesayangan Meninggal di Makhluk Pemakan Darah


Duamisteri.com - Suamiku merencanakan untuk tinggal sendirian di Kota Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tanpa aku dan anak-anak. Sebab dua anak kami, Dita dan Putih, sudah bersekolah di SMU 9, Kunciran, Kota Tangerang. 

Mas Sugiarto Pramono menyayangkan kedua putri kami itu harus pindah dan bersekolah di daerah terpencil yang mutu pendidikannya di bawah standar. Baik kwalitas guru, maupun system pendidikan di daerah terpencil, berbeda jauh dengan Kota Tangerang yang sudah begitu maju pesat dan dekat dengan pusat pemerintahan Jakarta.

Untuk kegiatan ekstra kurikuler saja, guru olahraga Dita dan Putih adalah mantan pelatih bulutangkis nasional, yaitu Ahmad Daniel, yang sangat mahir bermain badminton dan melatih, sehingga beberapa kali SMA Negeri 9 ini menjadi juara turnamen bulutangkis se-provinsi, kometisi ketat antar SLTA se-Banten.

Anak kami, Dita dan Putih, menjadi dua orang dari beberapa murid yang mampu bermain badminton dengan baik. Sejak mereka SD, Mas Sugiarto sudah memasukkan mereka ke club besar. Maka itu, setelah rutin mengikuti turnamen, dua anak kami itu jadi mahir bermain badminton. Teruji sebagai pemain. Bahkan beberapa kali dilirik untuk dimasukkan pada pelatnas.

Karena tugas di Praya tidak sebentar, sepuluh tahun, maka kami sepakat untuk pindah semua ke Praya. Boyongan pindah ke kota baru meninggalkan kota yang lama. Kami masuk dalam suasana baru, lingkungan baru dan bertetangga dengan orang-orang baru yang serba baru. Dita dan Putih sangat setuju pindah ke Praya, kota kecil dekat laut Samudera Hindia di Lombok Tengah yang sunyi.

Hari Rabu, 2 November 2009 kami sekeluarga berpamitan pada tetangga untuk pindah. Tetangga kami hampir semuanya kaget mendengar kepindahan kami yang mendadak ini. Bahkan banyak yang mempertanyakan ada apa, apa ada sesuatu masalah yang besar hingga begitu terburu-buru pindah. Beberapa orang tetangga terbaikku, teman baik seperti Bu Bambang dan Bu Winarno, menangis dan hujan airmata saat melepaskan kami ke bandara Soekarno Hatta hari itu. Mereka mempertanyakan kenapa saya tidak jauh hari mau bercerita, tidak memberi kabar akan pindah hingga mereka menyiapkan makanan atau souvenir apalah untuk kami. Lalu kukatakan pada mereka, justru karena kami tidak mau bikin repot, maka kami tidak mengabarkan hal ini dari jauh hari.

Bahkan di antara mereka, banyak yang mau mengantarkan ke bandara, tapi aku mencegah. Aku tidak mau meninggalkan mereka di airport Soekarno-Hatta. Aku ingin perpisahan yang menyedihkan itu cukup di rumah saja, lalu hanya kami sekeluarga pergi ke bandara dan terbang ke Selaparang, Nusa Tenggara Barat untuk kemdian berjalan lewat darat selama tiga jam ke pinggir Samudera Hindia, Kota Praya yang mungil.

Airmataku tak tertahankan mengalir saat memeluk semua ibu-ibu yang hadir mengantarkan kami keluar rumah. Mataku terasa terus basah, terasa terus mengalirkan air saat mobil kijang perusahaan Real Estate Inti Bumi mengantarkan kami menuju bandara internasional di Cengkareng, Kota Tangerang itu. Lama sekali aku memeluk beberapa ibu yang semuanya menangis menyaksikan kepergian kami ini. Bahkan Dita dan Putih dipeluk mereka sambil mengusap rambut anak-anakku, meminta agar anak-anak berhati-hati dan waspada di daerah yang baru nanti. ”Jangan lupa menelpon dan berkirim surat kepada kami-kami di sini ya?” harap Bu Bambang dan Bu Winarno kepada anak-anakku.

Senja memerah di ufuk barat, langit menguning karena bias sinar matahari yang mulai memasuki kedalaman galaksi. Pesawat Garuda Indonesia Airways Airbus nomor penerbangan GA 484 take up mulus meninggalkan Bandara Jakarta menuju timur dan mengudara di atas laut Jawa. Ketika pesawat berwarna putih dan biru yang kami tumpangi mendarat di bandara Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, jantungku terasa bergetar cepat tidak menentu.
Entah kenapa, tiba-tiba datang rasa gundah gulana menggantung tipis di kedalaman batinku. Turun dari pesawat kami langsung dijemput oleh sopir perusahaan yang penuh tatto di tangannya, Sudrajat Jindono. Supir itu sudah lima bulan di situ setelah pindah tugas dari kantor pusat di Jalan Ampera Raya, Kemang Selatan, Jakarta Selatan.

Selama perjalanan menuju rumah baru kami di Praya, Lombok Tengah, NTB, Pak Sudrajat bercerita tentang banyak hal yang bermacam-macam pada Mas Sugiarto, di antaranya yaitu mengenai kasus banyaknya kematian misterius belakangan ini di Praya, Lombok Tengah dan Selong, Lombok Timur. Memang, dari berita-berita di koran, menyeruak kasus kematian misterius di dua daerah ini, Praya dan Selong. Namun hingga sejauh ini, polisi belum berhasil mengungkap tentang sebab apa kematian beberapa korban itu. Dari beberapa narasumber terpercaya, kami mendapat keterangan, bahwa kematian demi kematian itu diduga karena serangan srigala, kelompok anjing liar yang belakangan ini memang banyak terlihat di Hutan Tangkil empat kilometer di luar kota Praya.

”Di sebelah barat ada satu bukit, nama bukit itu adalah Bukit Malaya, di atas bukit itu kita melihat pemandanganseluruh Nusa Tenggara Barat yang sangat indah. Di situ juga kita bisa melakukan aktifitas outbound. Bukankah Dita dan Putih suka out bound kan?” pancing Mas Sugiarto, mengalihkan perhatian anak-anak. Sebab suamiku tidak mau anak-anakku
ketakutan mendengar cerita seram Pak Drajat.
Kendaraan melewati jalan tanah berbecek menuju rumah dinas Mas Sugiarto di Jalan Abdul Razak Raya No.13 B, Praya, Pasar Kitri, Lombok Tengah. Selain tanah berbecek, di pinggir jalanan juga terdapat banyak akar-akar kayu besar seperti akar kayu mahoni dan angsana yang berumur ratusan tahun. Untunglah mobil yang ditumpangi adalah mobil bergardan ganda, Kijang Out Town yang dikenal tangguh menghadapi lumpur. ”Jalan ini belum seberapa parah dibanding jalan menuju lokasi perumahan Inti Bumi Estate di dekat laut selatan. Kalian semua akan pergi ke sana bersama papa besok pagi!” kata Mas Sugiarto.

”Daerah selatan itu seberapa jauh dari rumah kita Pa?” tanyaku, demi untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari cerita menyeramkan yang terjadi di Praya belakangan. ”Tidak jauh Ma, hanya 20 kilometer, tapi lokasinya sangat sulit dijangkau, sebab jalanannya masih tanah. Kalau berjalan ke sana pada musim panas, jalanan itu sangat berdebu. Tapi yang repotnya bila musim hujan seperti sekarang ini, jalanan berbecek tebal dan mobil sering sekali tergelincir bila sopirnya tak begitu pandai. Tapi driver satu ini, Mas Drajat, saya yakin dia punya kemampuan menyetir yang luar biasa, dia mampu menyetir bukan saja dalam lumpur, tapi di dasar laut pun, dia bisa menyetir!” canda Mas Sugiarto, dengan maksud untuk memuji Pak Drajat, sambil tertawa terpingkal-pingkal. Pak Drajat terlihat sangat senang dengan percandaan itu. Selain geli, dia juga tersanjung dengan ungkapan calon boss barunya itu.

Kami sampai di Jalan Abdul Razak 13 B, Pasar Kitri, tepat pukul l7.45 waktu Indonesia tengah. Rumah dinas itu ternyata bangunan tua jaman Belanda, gaya Reneisasance dan Pollendam Stuille. Sebuah tempat tinggal peninggalan belanda abad l7 lalu, yang merupakan rancangan dari arsitektur sohor Belanda, Heinderick Van Brongkost. Rumah itu dibangun Belanda karena di sekitarnya ada deposit emas besar yang kala itu diincer Ratu Wilhelmina. Selain itu, ada pula deposit nikel dan biji besi, yang kala itu menjadi primadona material tingkat dunia. Benda itu dicari-cari oleh industri yang sedang bertumbuh di Jerman dan Italia. Saat Cucu Ratu Wilhelmina membangun industri dan ekploitasi nikel dan biji besi N.V Eindhoven Drill tahun l779, 100 orang pekerja asal Belanda dan Jawa mati terkubur di situ. Tanah perbukitan yang dibangun, tiba-tiba rontok, ambruk longsor dan mengubur hidup-hidup pekerja tambang dengan investasi besar-besaran pada jaman itu.

Begitu kami semua masuk ke dalam rumah, kami semua terperanjat. Tapi tidak dengan Mas Sugiarto. Ternyata, Mas Sugiarto membuat kejutan yang sangat sensasional bagi kami. Di rumah bertingkat dengan l0 kamar besar-besar itu ternyata telah terisi perabotan komplit. Selain meja kursi, sofa, lemari, televisi, AC, lemari es dan dapur yang nyaman, di garasi juga ada tiga mobil sedan mulus buat aku pergi dan anak-anak sekolah. ”Papa sudah siapkan semuanya saat Papa ke sini sebulan lalu. Satu mobil untuk Dita, satu mobil untuk Putih dan satu mobil untuk Mama. Semua masing-masing punya mobil dan tidak boleh saling ganggu satu sama lain. Dita dan Putih sudah ada sekolahnya, l0 kilometer dari Praya ini, yaitu arah ke Kota Cakranegara. Sekolahannya tidak begitu bagus, tapi tenaga pengajarnya sangat profesional, dua di antara tenaga pengajar itu adalah warga negara Inggeris. Hebat kan?” dorong Mas Sugiarto.

”Papa sendiri mobilnya yang mana, di garasi ini mobilnya kan hanya ada tiga?” tanya Dita, penasaran. ”Tenang, mobil Papa adalah Kijang Out Town dan Om Drajat yang menyetirkan Papa ke mana-mana!” jawab Mas Sugiarto, sambil tertawa dan menunjuk mobil yang menjemput kami ke bandara Selaparang tadi. Dita pun tersenyum puas mendengar keterangan papanya itu. ”Papa hebat, diam-diam, Papa ini kaya raya di daerah terpencil ini, tapi di Jakarta kok biasa saja sih Pa? Jangan-jangan Papa korupsi nih, Hati-hati Pa kalau korup, sekarang KPK sangat galak, Papa bisa-bisa diseret ke Pengadilan Tipikor!” canda Dita.

”Enak aja, Papa korup, emangnya Papa bekerja sama negara? Papa bukan PNS bukan pegawai negeri, bukan pejabat pemerintah. Tidak ada urusannya papa ini dengan korupsi. Lagi amit-amit, insya Allah Papa tidak korup lah, semua ini karena kebijakan perusahaan, Papa banyak dapat inventaris mobil, buat kalian lah, satu-satu. Lagi pula, sekarang ini, sebuah mobil, bukan lagi barang mewahan, tau?Di manamana banyak mobil leasing, mobil kereditan. Punya uang 10 juta sudah dapat Avaza, Xenia atau Grand Max baru!” jawab Mas Sugiarto serius.

Tapi Mas Sugiarto hanya banyak tersenyum simpul mendengar ocehan anak-anak, yang memang tidak tahu kalau Mas Sugiarto beberapa bulan belakangan ini diangkat jabatannya, dari kepala bagian di kantor pusat menjadi Direktur Operasional dan Direktur Cabang di Nusa Tenggara Barat.

Pada malam hari saat baru datang, kami makan di restoran Sea Food Oriental barat kota. Restoran mewah dan nyaman itu milik seorang warga negara Inggeris asal Derby County, Inggeris Utara. Nama pria itu Sir Richard Robinson, istrinya Sherly Duberry. Dia teman lama Mas Sugiarto saat suamiku bertugas di Mataram selama beberapa bulan. Sir Robinson juga punya beberapa restoran mewah di Bali dan juga di Ampenan, NTB. Selain Sea Food ala Cina, Sir Robinson juga buka restoran Italian Food dan Spanish Food di Timika, Irian Jaya. Tapi entah kenapa, kata Mas Sugiarto, Sir Robinson lebih senang di Praya, bukan di restorannya yang lain yang lebih besar.

Pulang dari Sea Food kami masuk ke kamar masing-masing. Mas Sugiarto dan aku di kamar bawah depan, Dita di kamar tengah dan Putih di kamar kiri depan. Sedangkan di lantai atas, satu kamar dari lima kamar yang ada ditempati oleh Pak Drajat.
Entah kenapa malam itu aku dan Mas Sugiarto sulit tidur. Padahal kami ngobrol banyak hal hingga mulut kami berdua sampai capek ngomong. Sementara jam di dinding, menunjuk di angka 24.00 tengah malam.

Suasana malam Kota Praya sangat sunyi. Tak ada kendaraan lalu lalang atau tak terdengar sedikitpun suara orang-orang yang bergadang di luar rumah. Suara jangkrik dan kodok sesekali terdengar memecah kebisuan malam. Dari kejauhan di atas bukit, terdengar suara srigala yang mengaum, menyentak jantungku hingga hatiku terasa begitu miris.
Saat kami nyaris tertidur, terdengar suara pekikan Dita dari kamar tengah. ”Papa. Mama, tolongin Dita Pa!!” teriaknya. Mas Sugiarto langsung melompat dan aku juga ikut dari belakang. Kami menghambur ke arah kamar Dita. Pintu kamar tidak terkunci dan kami langsung menemui Dita. Anak bungsuku itu tertelungkup di lantai dan pucat pasih. Mulutnya tak dapat bicara dan tangannya menunjuk-nunjuk ke jendela yang terbuka. ”Drakula, Drakula!” pekik Dita sambil memelukku erat-erat.

Aneh, daun jendela rumah itu tiba-tiba terbuka. Padahal dari sore aku telah menutup rapat-rapat daun jendela itu dengan kunci yang berlapis. Aku lalu menghambur ke arah jendela dan melihat keluar. Oh Tuhan, dari balik lampu taman, aku melihat dengan jelas sosok pria berjas panjang warna gelap dan bertopi laken. Sementara di bahunya terlihat sal panjang yang terjumbai disapu angin malam. ”Mas Giarto, di luar ada orang!” teriakku.

Saat Mas Sugiarto mendekat ke jendela untuk melihat, tiba-tiba dalam hitungan detik, sosok itu terbang seperti kelelawar ke atas rumah. Kelebatnya terlihat jelas oleh kami dengan menggunakan sal menjadi sayap. Sayap sosok itu mirip sekali dengan sayap kelelawar, terbang ke atap rumah kami. Mas Sugiarto kalut dan kami bertiga tegang berat. Kami langsung buru-buru menutup jendela dan menelpon polisi Sektor Praya.

Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar pekikan Pak Drajat di kamar atas. Aku membimbing Dita untuk mengikuti Mas Giarto naik ke kamar atas. Setelah mendobrak pintu kamar Drajat dan menyalakan lampu, kami terkejut bukan alangkepalang. Drajat terkulai lemas dengan leher yang penuh darah. Wajahnya pucat dan Pak Drajat ternyata sudah tak bernyawa lagi.

Pak Drajat mati beberapa saat setelah dia berteriak minta tolong.
”Saya yakin sosok yang kita lihat itu adalah pembunuh misterius yang meresahkan warga Praya belakangan ini!” kata Mas Sugiarto. Aku semakin ngeri, Dita semakin cemas dan kami semua jadi gunda gulana, gelisah dan takut. Tak berapa lama, aku teringat anak kami satunya, Putih di kamar bawah kanan. ”Putih Mas, Putih anak kita!” teriakku.
Bagaikana berkejaran dengan waktu, kami bertiga bergegas lari ke bawah. Kami bertiga menuju kamar Putih yang mungkin juga dalam bahaya, mudah-mudahan anak sulungku itu sedang tertidur lelap dan tenang di alam mimpinya. Sementara mayat Pak Drajat kami

Tinggalkan begitu saja sambil menunggu polisi datang.
Sesampainya di kamar Putih, ternyata pintu kamar terkunci dari dalam. Kami berteriak keras memanggil Putih. Tapi anehnya, Putih tidak terbangun dan tak bergeming sedikitpun. Rasa cemas makin membahana dalam batinku. Rasa was-was bertaut di batin kami, yang mengkuatirkan akan nasib Putih. Karena tidak ada reaksi sedikitpun dari dalam, maka Mas Giarto menghantam pintu sekeras-kerasnya dengan kakinya. Pintu itu lalu terbuka setelah kunci tercerabut akibat tendangan. Setelah menyalakan lampu besar, kami bertiga tak kuasa menahan sedih. Duh Gusti, anak kesayanganku itu telah terkapar di lantai tanpa nyawa. Putih tewas dengan luka gigitan di leher dan tubuhnya memutih karena kehabisan darah.

Melihat keadaan anakku yang memilukan itu, aku tak kuasa lagi menahan tubuhku yang lemah. Aku lunglai terhempas di lantai dan pingsan. Aku pun tak ingat apa-apa lagi dan baru sadar setelah diberi air putih hangat oleh Iptu Sanija kepala kepolisian Sektor Praya. Dalam satu malam, dua korban mati di rumah dinas itu. Satu sopir kesayangan dan satu anak sulung kami yang pendiam yang sangat santun juga baik hati.
Aku menangis habis-habisan di pelukan Mas Guarto, begitu juga dengan Dita yang lusuh berurai airmata karena kepergian kakaknya yang sangat dicintai itu. ”Ada mahluk di luar alam manusia yang berhubungan dengan manusia yang hidup dan menghisap darah. Saya sudah mendeteksi, bahwa ada Vampir di sini. Jika dalam dua 24 jam tidak ditemukan dan tidak bisa dimusnahkan, akan jatuh korban lebih banyak lagi!” kata Kaji Husin, penasehat spiritual Ipda Sanija. Kaji Husin didatangkan Ipda Sanija malam itu juga dengan jeep dari tepi Samudera Hindia.

Setelah memvisum jenazah Putih, aku minta pulang ke Jakarta. Kami memutuskan untuk memakamkan Putih di Pulau Jawa. Sementara Pak Drajat dimakamkan keluarganya di Praya.
Setelah dimakamkan di TPU Kayugede, Serpong, aku minta pada Mas Giarto untuk tidak kembali lagi ke Praya. Mas Giarto memenuhi tuntutanku itu dan aku bersama Dita kembali tinggal di Kota Tangerang. Mas Giarto pun minta pindah tugas dan big boss pun membatalkan semua proyek di wilayah NTB itu. Tapi Mas Sugiarto minta izin padaku untuk
Turut membasmi vampir yang telah membunuh anak keyangan kami itu.

Alhamdulillah, tekad suamiku yang kukenal pantang menyerah itu, terwujud dan sukses. Vampir biadab itu ternyata berhasil dimusnahkan dan dibakar secara berombongan di tengah persembunyian mereka di luar Kota Praya. Vampir itu ternyata arwah para tenaga kerja asal Belanda yang mati di Praya abad lampau. Setiap waktu tertentu, kami undang semua tetangga dan keluarga besar untuk membantu kami melakukan tahlilan di rumah kami, mendoakan agar Putih di terima layak di sisi Allah. Kami terharu sekali karena banyak tetangga kami yang terus menerus turut berduka, menyesali kematian anak kami yang cantik, Putih Zaskiah, yang selama ini selalu santun dan baik hati kepada siapapun. ***
selesai
kita kembalikan semua pada allah swt..Aminnnnn
(Kisah ini terjadi pada keluarga Nyonya Sugiarto, SyarifahNovita menulis cerita itu untuk Redaksi kami)

BACA JUGA : Cerita Misteri Batu Cinta Kanjeng Ratu Kidul

Cerita Misteri RSU Mataram, Pelayanan Dokter dan Suster Hantu


Duamisteri.com - Kisah ini merupakan kisah nyata yang sedang heboh jadi bahan perbincangan di lombok mataram,
Ada banyak sekali versi dari cerita horor ini,dan versi yang saya akan ceritakan ini,saya dapatkan dari tetangga deket rumah,walaupun banyak versi tetapi intinya sama,yaitu tentang suster dan dokter hantu yang baru-baru ini heboh jadi bahan pembeciraan.

Pada suatu malam,datang lah sepasang suami istri ke RSU Mataram lombok,kalo dilihat-lihat sih sang istri lagi hamil tua,dan mungkin hendak mau melahirkan.

Begitu mereka turun dari kendaraan yang mengantarkan mereka dari Rumah sakit di Tanjung kabupaten lombok utara menuju RSU mataram,beberapa orang suster datang menghampiri membawa kereta pasien,salah seorang suster berkata kepada sang suami pasien.

suster : percayakan kepada kami ya pak,Mohon bapak menunggu disini ya,kami akan menangani pasien semampu kami.

suami : ya suster,terima kasih.

Sudah hampir beberapa jam kemudian,suami pasien tetap saja berdiri didepan pintu gerbang RSU mataram menunggu kabar keadaan sang istri dari suster yang membawa istrinya kedalam kamar Rumah sakit,hingga seorang tukang ojeg yang biasa mangkal dipangkalan ojeg depan RSU mataram pun jadi penasaran,mengapa bapak itu berdiri didepan pintu gerbang rumah sakit yang sudah tidak dioperasikan tersebut hingga ber jam-jam lamanya,dan kalau diperhatikan Orang tersebut seperti menunggu seseorang yang keluar dari dalam Rumah sakit yang kosong sudah tidak beroperasi.

dan akhirnya tukang ojeg tersebut melangkah menyebrangi jalan untuk menyapa orang tersebut.

T.ojeg : Pak,,,lagi nunggu siapa disini,dari tadi saya perhatikan bapak sudah ber jam-jam berdiri disini..

Suami pasien : saya lagi menunggu istri yang lagi melahirkan di rumah sakit ini.

T.ojeg : laaaah...bapak bagaimana sih...ini Rumah sakit sudah tidak digunakan/ dioperasikan lagi...

Suami pasien : anda ngomong apa sih,kalau rumah sakit ini sudah tidak digunakan lagi,terus suster yang bawa istri saya siapa,terus tu juga apaan,banyak orang yg besuk,banyak yang jualan banyak yang mondar mandir disekitaran rumah sakit ini.

T.ojeg : Haaaaah...istigfar pak istigfar,ini Rumah sakit sudah tidak digunakan berbulan-bulan,Rumah sakit ini sudah dipindahkan.

Suami pasien : ya terus tu apaan,banyak orang didalam rumah sakit lagi pada sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

T.ojeg : makanya bapak istigfar banyak-banyak,biar bapak bisa melihat semuanya dengan jelas.

suami pasien : Astagfirullah.Astagfirullah hal'azim,Astagfirullah hal'azim.

Setelah sang suami pasien baca istigfar,tiba-tiba rumah sakit yang tadinya ramai dengan segala aktifitasnya tersebut,seketika itu berubah menjadi rumah sakit yang gelap sunyi sepi dan tak seorang pun terlihat.

Suami pasien tersebut terkaget bukan kepalang,ketika semua yang ia lihat tadi berubah drastis 180° terbalik,suasana RSU mataram yang barusan saja terlihat ramai dengan segala macam aktifitas rumah sakit pada umumnya,seketika itu berubah menjadi rumah sakit yang sepi sunyi senyap dan menyeramkan,Subhanallah(begitu mudahnya Allah merubah keadaan dunia ini hanya dalam hitungan detik).

Sang suami pasien pun baru sadar jika istri dan calon anaknya dibawa oleh mahluk gaib menyerupai dokter dan suster masuk kedalam RSU mataram yang gelap,sambil berteriak ia berlari kedalam rumah sakit.

Setelah sekian lama mencari sang istri,akhir si suami menemukan istrinya terbaring disebuah kamar menyeramkan(kamar mayat),dengan posisi tertidur disebuah ranjang bersama bayi yang baru ia lahirkan,sang istri menyapa suaminya"pak anak kita sudah lahir dengan selamat".

sang suami terheran melihat keadaan istri dan anaknya yang sudah rapi dan bersih dari proses persalinan(sudah dimandikan,dikasi popok dll)hanya saja ari-ari bayinya sudah tidak ditempat.

Akibat kejadian ini si suami istri tadi jadi trauma,akibat proses persalinan yang ditangani oleh dokter dan suster gaib.

Beberapa hari yang lalu cerita ini memang lagi heboh-hebohnya diwilayah kota mataram dan sekitarnya,benar atau tidaknya cerita ini,yang jelas kita semua memang hidup berdampingan dengan mahluk Allah yang lainnya yaitu mahluk yang namanya jin.